AkberBks6 – Who Wants to be a Film Maker?

Kamu suka nonton film?

poster film indonesia – sumber: 21cineplex.com

Pernah terbayang bagaimana proses pembuatan sebuah film?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, Ichwan Persada,  produser film Cerita dari Tapal Batas, berbagi pengetahuan dan pengalamannya di kelas ke-6 Akber Bekasi, di Imperial Education Kalimalang, 10 Agustus 2012  (maaf yaaaaa teman2 Akber, kalau tulisan tentang kelas ini cukup lama rilisnya. tapi simak terus lho! dijamin nggak basi 🙂 )

Sebuah film adalah hasil kerja kolektif. Ada puluhan jenis profesi yang terlibat dalam proses pembuatannya. Tidak hanya pemain film dan sutradaranya yang kerja keras. Tapi juga penulis naskah, sutradara, asisten sutradara, penata kamera, penata lampu, penata kostum, editor dan banyak lagi. Mereka bersatu padu membuat karya film yang bagus.

Nah, ada salah satu profesi dalam dunia film yang sering luput dari perhatian, dia adalah produser. Padahal dalam struktur pembuatan film, produser ada di puncaknya.

Karena Ichwan adalah produser,  jadi guru Akber Bekasi sesi ini pun bercerita tentang film making dari sisi produser. Pertanyaan pun dilempar ke murid-murid. “Apakah produser itu??” Orang yang punya duit untuk bikin film?? Oh, ternyata bukan itu jawabannya.

Produser itu orang yang tahu dari mana dapat uang untuk bikin film, dan di mana memutar film-nya itu agar dapat menghasilkan pendapatan balik. Karena urusannya memutar uang, seorang produser harus memiliki kemampuan KREATIF dan BISNIS.

Kreatif di sini adalah jeli menangkap ide. Ide film yang bagaimana yang punya nilai jual tinggi? Unsur apa yang bisa mengangkat nilai lebih film yang mau dibuat? Konteksnya adalah orientasi penonton, dan nilai-nilai yang dikejar si produser itu sendiri. (makanya ada produser yang asik-asik aja bikin film esek-esek, misalnya).

Sebagai contoh Icwan bercerita bagaimana dia memilih cerita Rumah di Seribu Ombak, yang rilis di bioskop akhir Agustus ini. Film yang diangkat dari novel ini menurut Ichwan mempunyai unsur yang menarik banget buat penonton Indonesia, yaitu Bali dan persahabatan antaragama. Eh, ngomong-ngomong… Ada yang sudah nonton filmnya? Mau numpang publish resensinya di blog Akber Bekasi boleh banget lhooooo…..:))

suasana kelas AkberBks6

OK. Balik lagi ya ke kelas Akber Bekasi. Sampai mana tadi? Oh iya. IDE. Ketika ide film sudah didapat, maka ide itu diolah hingga menjadi cerita. Mulai dari sinopsis, hingga skenario. Produser harus mendampingi proses itu, supaya sesuai dengan visi yang dia punya.

Produser juga harus jeli melihat siapa yang bisa menggarap filmnya. Misal, kalau mau bikin film reliji, siapa sutradara yang jago menyutradarinya? Murid-murid Akber Bekasi menjawab Hanung Bramantyo. Mungkin karena terpengaruh film Sang Pencerah, ya? Bagaimana jika film reliji diserahkan penggarapannya ke Nayato? Cocok nggak? Terus pemainnya siapa? Nah, pemilihan orang-orang inilah yang jadi tanggung jawab Produser.

Kerja produser tak berhenti di memilih orang-orang tadi. Produser juga harus memastikan proses pembuatan film berjalan lancar. Kalau ada hambatan besar, produser harus bisa mengatasinya. Sebagai contoh, Ichwan menceritakan pengalamannya menghadapi aparat yang terkesan paranoid saat pembuatan film, padahal sudah tahap syuting! Nah lho! Banyak lagi contoh, tapi nggak bisa satu per satu ditulis di sini lah yaaa.

Diskusi kelompok kecil di kelas AkberBks6

Tadi sudah dipaparkan kerja produser dari segi kreatif. Kalau dari segi bisnis, Produser harus tau ke mana mencari dana. Bagaimana meyakinkan orang-orang yang akan memberikan dana itu, bahwa dana dipakai untuk bikin film yang bagaimana…. dan yang lebih penting…. balik modal!

Segi bisnis Produser juga dilihat dari cara mengalokasi budget. Apakah ada dana promosi? Bagaimana promosi yang efektif? (nah, ini perpaduan bisnis dan kreatif yaaaaa).

Banyak juga ya sharing-nya Ichwan Persada. Padahal diselingi tanya jawab nih. Ini antara lain:

1. Film Indonesia terakhir yang kalian tonton?? (ini pertanyaan 10 Agustus).

Semua murid tampak bingung. Bukan bingung karena kebanyakan nonton film Indonesia, tapi karena nggak nonton. Heheheee, ironis yah pemirsaah… Waktu disebut film Indonesia, masih pada bingung. Giliran disebut Madagascar dan Batman pada angguk-angguk paham. Heheheee. Untung pas disebut The Raid banyak yang semangat lagi yah.

2. Kenapa nggak nonton film Indonesia (di bioskop)?

Ada yang jawab karena nggak dapat rekomendasi bagus! Ada juga yang jawab karena nggak lama lagi juga akan diputer di tv! *dueng!* Kenyataannya, Film Barat pun juga akan diputer di tv. Kenyataannya, banyak film Indonesia yang setelah tayang di tv baru diketahui bagusnya. Sekali lagi, ironis yah pemirsaaa…

Oh iya. Mimin @AkberBKS juga nanya via twitter, film Indonesia yang menurut kalian bagus apa ya? Ada yang menjawab : Modus Anomali, Lewat Djam Malam…. (lihat tulisan livetweet AkberBks 6).

3. Tips bikin film untuk pemula? 

(1). cari buku2 panduan. (2). Tidak harus dengan kamera canggih (3). Cerita yang menarik.

4. Prospek film berlatar sejarah? 

Prospeknya bagus. Masalahnya, risetnya mahal! Setting-nya juga. Belum lagi kalau filmnya mau digarap kolosal.

Pertanyaan-pertanyaan lainnya bisa dibaca di tulisan livetweet AkberBks6.

Kelas selesai sekitar pukul 12 siang. Murid-murid foto dulu yak sama pak guru.

Tapi setelah itu masih ada sesi lain-lain. Ada pemutaran film pendek, ada tugas untuk murid-murid Akber Bekasi untuk bikin film (sekaligus penunjukan produsernya), juga diskusi-diskusi tambahan. Yah…. selalu ada yang bisa didapat lagi dan lagi di Akademi Berbagi… dan selalu menyenangkan untuk berbagi…. Sebab… berbagi bikin happy!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s